1. Waktu Yayah umur 40 hari, aku bilang; "Mas, now we have to pray." Dia jawab: "OK." Setelah doa aku ngasih dia gunting, "now you have to cut a little bit of her hair." Dia tanya: "why?" Aku bilang bahwa aku mau botakin. Dia kontan panik, "don't be mean...she has a lot of hair, please don't shave hers." (Iya deh dari pada dibilang jahat akhirnya aku urungkan niat).
2. Suatu hari kita nonton film ttg agent rahasia, alias mata-mata. Suamiku bilang: "I think Indonesia have those." Aku bilang, punya dong. "What's the name?" Tanyanya lagi. Aku jawab: "Nol-nol-pitu." (kok dia percaya yaaa?).
3. Tur Kota Solo. Suatu hari kita ke Keraton. Terlihat pilar-pilar bangsal yang dibungkus kain. Dia tanya kenapa dibungkus. Aku jawab karena itu adalah pilar yang dibalut dengan emas asli dan usianya tua sekali. Dia tanya lagi, kenapa yang emas asli cuma tiang-tiang tersebut?
Terpaksa aku tuturkan kisah Keraton yang terbakar di masa silam. Dia tanya, kalau begitu emas sisa dari tiang-tiang yg terbakar itu masih ada, bisa dibikin lagi dong untuk tiang-tiang barunya. Aku jawab enggak bisa. Karena sisa tiang-tiang yang terbakar tersebut disebar di laut Selatan dengan upacara ritual orang Jawa. Serpihan/keping emas yang dikembalikan oleh ombak ke pantai hanya boleh diambil oleh rakyat.
Suamiku bengong dengar kisah tersebut, bukan bengong soal emasnya, tapi betul-betul heran dengan tiang terbakar yang diupacarakan serta buntutnya dibuang ke laut. (Waaah....neranginnya juga males deh).
Tambahan dia ngeh bahwa Istana-istana Jawa tamannya gak ditanemin rumput, cuma dihamparin pasir doang. Aku bilang, supaya kalo ujan enggak becek belok lepot. Dia manggut-manggut. Buntutnya orang yang kerja di 'dalem' ngasih aku secarik kain. Sudah kebiasaan untuk nyomot sedikit saja pasir di situ yang dulunya diambil dari pantai laut Selatan, lalu dibungkus kain dan kita bawa pulang. Suami nanya lagi, "buat apa?" Aku bilang buat kenangan dan kalo lagi pegel-pegel pasir ini suka dipanasin dalam kuali, bungkus lagi dalam kain lalu kita tempelin ke bagian yang pegel-pegel. Suami bilang: kalo cuma untuk begitu sih bisa pasir dari mana aja dong." Aku jawab, "enggak...aku cuma mao pasir yang ini." (dasar Jawa).
4. Suatu hari suami bilang: "Show me where your cousin came from." katanya sambil menggelar peta Indonesia. Aku tunjuk sebuah kota di Jawa Barat. Dia heran sambil bilang: "So your cousin is Javanese. How come you said she's not?" Aku bilang: "She's not Javanese, she's Sundanese." Sambung dia lagi, "but this is Java island...the people are Javanese."
(Terpaksa aku terangin panjang lebar perbedaan antar etnis).
Jadi inget suatu insiden waktu sekolah. Punya teman bergelar Ratu. Dengan pe-denya dia bilang: "Wid, Raden sama Ratu kan tinggian Ratu." Aku manggut-manggut: "Kalo menurut pendapat Ratu memang begitu..." Ujarku.
5. Kakak iparku punya banyak barang peninggalan nenek moyang, sejak masih di Inggris, sebelum keluarga mereka pindah ke benua Amerika di masa silam. Foto-foto pun banyak. Sayangnya di foto tak ditulis keterangan apa-apa hingga kita gak tahu lagi foto siapa aja.
Namun peninggalan yang paling dahsyat adalah sebuah boneka, namanya lupa. Boneka itu sedikitnya berusia 200 tahun. Oleh iparku pernah dibuatkan baju baru. Pas mau diganti iparku merinding karena wajah si boneka tampak sangat sedih. Akhirnya ia urung gantikan baju. Sampai sekarang bajunya compang-camping dan boneka itu disimpan dalam lemari. "Do you think I'm crazy?" Gitu tanyanya. Aku jawab: "No you're not." Trus dia nanya, kenapa bonekanya gak mao digantiin baju? Entah dapat ilham dari mana aku bilang: "she has a precious memory with the owner who gave her the dress. She won't change it for any other dresses."
Iparku melongo sambil bilang: "I thought I was crazy..." (ternyata masih ada yg lebih gila dari gue). Lalu dia kasih lihat bonekanya, aku cuma nengok bentar. Iparku nanya, "Don't you want to look at it?" Aku bilang: "I don't want any trouble." Iparku bilang: "you're weird..." (daripada mimpi syerem mendingan enggak kan?).