Ya itulah saya. Sejak foto terakhir dibilang Laen sama si adik dan saya kuatir maksudnya laen adalah tua, baru tadi pagi saya telepon dan ngobrol lagi dengan dia. Ternyata katanya "enggak kok, kamu gak keliatan tua, cumaaa....di foto itu kok jelek banget sih?"
(Hahaha ternyata cuma jelek doang toh...ya gpp kalo dibilang jelek sih aku gak keberatan, yang penting adalah : buat suamiku aku paling cakep sedunia...hehehe)
Yah beginilah keluargaku memang model Srimulat. Kita semua dibesarkan untuk gak narsis sama sekali yang mana aku bersyukur banget sampai saat ini.
Sambung cerita soal jelek, memang ada perbedaan besar antara grup wanita yang kurang cantik dengan yang cantik. Pengalaman saya, kalo kita bicara sama wanita yang tergolong tidak cantik, lalu kita puji seseorang: "Si anu cantik loh..." Pasti si wanita tsb akan berkata: "Ah, enggak koq, biasa aja...atau gak seberapa cantik kok."
TAPI...kalau kita puji orang lain di depan wanita yang memang cantik, pasti komentar dia: "Oh iya betul Mbak."
Bertahun-tahun bergaul dengan banyak orang, dua hal tersebut di atas selalu terulang dengan orang berbeda dan kasus berbeda tempat pula. Seperti pola rumusan gitu.
Ada juga misalnya kita kenalan sama cowok ganteng yang gayanya kikuk, pasti komentar kita: Lucu ya...so cute.
Tapi giliran kenalan ma cowok jelek yang gayanya canggung, pasti komentar kita: Dasar katro.
(wuahaha becanda deng!)
Namun ada sebuah pengalaman yang telah membuat saya terharu saat di Korea. Teringat soal ini jadinya saya mau share.
Guru bhs Korea saya, Hyung Jung, penganten baru. Suatu hari dia ngajak saya ke tempat kerja seorang temannya di Itae-won, di sebuah realistic agent. Entah kenapa si Hyung Jung ini mengeluhkan temennya, katanya: "She's a highly educated woman, how come she dates a driver?" Tadinya aku pikir temannya itu secantik ibu guruku. Lalu setelah ketemu, baru tahulah aku bahwa temannya ini sama sekali tidak cantik. Tapi tampak sbg orang yang menyenangkan dan cerdas. Saat itu pacarnya datang, orang Amerika yang pake seragam militer, lebih pendek dari saya, kepalanya sebagian botak dan sama sekali tidak tampan.
Acara perkenalan pun berlanjut, kita semua makan di resto bbq. Dari gelagatnya saya merasa 'nyaman' berada dekat mereka berdua. Betapa tidak, mereka adalah orang-orang positive thinking yang berpengetahuan luas, serta out going banget. On top of everything, mereka berdua tampak bahagia dan berkata akan menikah secepat mungkin.
Ibu guruku yang cantik manis bukannya senang malah setelah pertemuan itu dia bilang ke aku: "her boyfriend is only a driver for army logistic...may be she's so desperate because she's not pretty."
O-O...! Saya langsung katakan padanya: "Hyung Jung, when I spent time with them, I felt so touched, wanted to cry, and was embarrassed."
"Not because I thought they're embarrassing, but I felt embarrassed about all of us. Look at them, two people who's not pretty and not handsome, rejected by most of us just because of the way they look, have found each other and found happiness. What did we learn from this? We learnt the fact that we are too arrogant! We feel ashamed if our spouses look like him. Because we value others for their looks and not for who they are. You've already seen what a wonderful guy he is who loves your friend? Don't we have to be ashamed on ourselves and just be happy for them?"
Terjemahannya:
"Hyung Jung, saat menghabiskan waktu dengan mereka sebenarnya saya merasa sangat tersentuh, ingin menangis sekaligus malu."
Bukannya saya anggap mereka malu-maluin, tetapi kita semua lah yang malu-maluin. Menyaksikan dua orang yang tidak cantik dan tidak tampan, tersisih dari kancah perjodohan, hanya karena tampang mereka, sama-sama tidak diinginkan oleh orang seperti kita-kita, saling bertemu dan menemukan kebahagiaan. Apa yang kita pelajari dari hal ini? Bahwa kita terlalu sombong! Kita lebih menilai rupa dari pada hati orang lain. Kita merasa malu kalo pasangan kita mirip si bule itu. Padahal kan kamu lihat sendiri, betapa dia adalah pria yang baik dan menyenangkan yang mencintai temanmu? Bukankah kita layak merasa malu dan turut bahagia atas kebahagiaan mereka?
Ibu guru pun kontan berkata: "you're right! We all have been raised in the world where beauty is essential. And it is hard NOT to get dragged into it."